Bloom’ Taxonomy Meng-advanced-kan NLP


Menguasai NLP sebagai salah-satu cara memaksimalkan potensi diri melibatkan beberapa domain (area) dan setiap area memiliki beberapa tahapan. Bila area dan tahapan ini luput dari perhatian seorang NLP trainer (selanjutnya disebut pelatih NLP atau maha pelatih), maka peserta yang semula tergiur belajar NLP tidak akan mencapai hasil apapun dan kemudian menyalahkan bahwa, hasil belajar NLP tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat diukur keefektifannya. Sebagian peserta mungkin mengalami perubahan selama berada di dalam kelas, namun sayangnya tidak mendasar sehingga tidak mampu dikembangkannya di luar kelas.
Ketika seorang peserta bergabung dalam kelas pelatihan, kita dapat berasumsi ia telah ‘mengetahui’ beberapa hal tentang NLP. Berdasarkan pengetahuan atas beberapa hal itulah yang memotivasinya untuk bergabung. Namun belum dapat kita pastikan kalau tingkat pengetahuannya sudah cukup. Perlu pula disadari oleh seorang pelatih yang baik bahwa, ia harus mampu menjelaskan informasi tentang NLP secara benar agar peserta tidak terjebak dalam pemahaman lama apalagi kalau ‘mhawur’. Untuk itulah kita dapat menyusun dan menjalankan pelatihan dengan mengacu kepada tahapan-tahapan area kognisi yang dikembangkan psikolog pendidikan bernama Benjamin Bloom (1939-1999).

AREA KOGNISI (COGNITIVE DOMAIN)
Pada hari pertama pelatihan, pengetahuan—tentang—NLP dijelaskan secara lengkap, pengetahuan lama yang keliru atau kurang tepat yang saat itu dibawa peserta ke dalam kelas “diluruskan” melalui diskusi, sesi tanya jawab, pre-tes dan referensi bacaan.
Memasuki hari kedua pelatihan, peserta sudah dapat memahami filosofi dari pada teknologi NLP secara keseluruhan dan tepat.
Pada hari ketiga dan selanjutnya peserta dapat mengaplikasikan teknologi NLP dalam situasi yang berbeda tanpa memerlukan bantuan. Secara paralel dan simultan pada tahap ini peserta juga mulai memasuki area pembelajaran psikomotorik.
Menganalisa adalah tahapan kognisi yang harus dicapai oleh peserta. Pada tahap ini peserta dapat menguraikan pengetahuan tentang filosofi dan teknologi NLP ke dalam elemen-elemennya dan mengerti hubungan-hubungan antara elemen-elemen tersebut. Dari kata kerja kunci kompetensi yang disarankan Bloom’ Taxonomy seperti: membedakan; merestrukturisasi, mengklasifikasi, menjelaskan, menghubungkan, menguasai, menganalisa dan sebagainya, menunjukkan bahwa peserta sudah mampu melakukan suatu aktivitas.  
Pada tahap komposisi selanjutnya, peserta diharapkan sudah mencapai tingkat kecakapan menggabungkan elemen-elemen yang ada dalam filosofi dan teknologi NLP menjadi konsep baru. Kata kerja kunci kompetensinya adalah: menyusun, mendesain, membentuk, mengombinasikan, menghasilkan.
Bagi seorang maha pelatih NLP, tahap evaluasi adalah indikator suksesnya. Di kelas-kelas pelatihan NLP~Coach Indonesia, indikator ini diuji dalam sesi terakhir. Peserta mendapatkan giliran menangani seorang klien yang dipilih melalui nomor undian. Klien biasanya memiliki problem atau keluhan-keluhan yang tidak diantisipasi peserta sebelumnya sehingga ia harus mampu memberikan penilaian berdasarkan materi NLP yang sudah dikuasainya. Membandingkan problem state kliennya dengan sekitar 14 teknik yang sudah dikuasainya untuk menentukan mana di antaranya yang paling sesuai untuk membantu kliennya mencapai desired state-nya. Memutuskan, memilih dan mempertimbangkan situasi klien secara tepat adalah kompentensi yang harus diunjukkan di depan penguji dan pengamat. Sedangkan peserta yang tidak sedang mendapat giliran diuji secara simultan menjadi pengamat yang dituntut untuk memberikan penilaian.
Setelah terbiasa mempraktekkan NLP, seorang praktisi sudah mencapai tingkat kemampuan menciptakan pendekatan teknik atau model baru. Dalam pelatihan berdurasi 18 hari penuh, seorang maha pelatih diharuskan memiliki kompetensi yang dapat dijelaskan dengan kata-kata kerja: mendesainkan, mengasembling, menggabungkan, mengontruksikan, memperkirakan, mengembangkan, menuliskan, menginvestigasikan.   

AREA PSIKOMOTORIK (PSYCHOMOTOR DOMAIN)
Pada tahap aplikasi area kognisi, secara paralel peserta memasuki tahap menirukan yang ada dalam rangkaian area psikomotorik. Hal ini mengingat pelatihan NLP bertujuan menciptakan praktisi-praktisi yang dapat melakukan terapi, life-coaching dan peningkatan keterampilan-keterampilan (skills). Materi-materi pelatihan lain seperti public speaking, negotiation, coaching-mentoring, training delivery, selling dan memimpin tim juga perlu memerhatikan penguasaan area psikomotorik. Yang kami lakukan dalam kelas-kelas pelatihan adalah mendemonstrasikan perilaku yang ada dalam materi di depan kelas dan sesudahnya peserta menirukan atau menduplikasikan perilaku-perilaku yang telah diamatinya.
Agar peserta dapat maju ke tahap penguasaan psikomotorik berikutnya, mereka diberikan kesempatan dan waktu yang cukup untuk memahirkan aktivitas-aktivitas, misalnya: mempresentasikan, melakukan terapi, bernegosiasi, menarik perhatian audiens dan sebagainya.
Kesempatan praktik yang cukup akan meningkatkan akurasi atau ketepatan melakukan suatu aktivitas, misalnya melakukan terapi, presentasi, menjelaskan materi di depan kelas, dan sebagainya. Tentunya tujuan pelatih yang mumpuni berharap peserta tidak perlu menyontek (baca langkah-langkah suatu teknik) ketika melakukannya. Bayangkan, seorang sales yang melakukan presentasi di hadapan calon pembeli sambil membaca catatan, apakah sanggup menarik perhatian? Demikian pula seorang coach yang terhenti langkahnya akan menyebabkan kebingungan kliennya, maka pada tahap ini peserta dibiasakan melakukan aktivitas tanpa bantuan apapun.
Tahap berikutnya peserta dilatih untuk menguasai keterampilan mengadaptasi, kustomisasi suatu aktivitas agar dapat merespons perubahan dan dinamika lingkungan.
Setelah peserta menunjukkan penguasaan tahap-tahap yang dijelaskan di atas, maka semestinya ia sudah menjadi seorang ahli yang dapat melakukan suatu aktivitas dengan baik, mudah, lancar dan unconscious competence.

AREA AFEKSI (AFFECTIVE DOMAIN)
Beberapa tahun terakhir ini perusahaan-perusahaan—utamanya perusahaan besar; terbuka, multi-nasional, mengurangi hingga menghentikan sama sekali mengundang training provider untuk melatih tim mereka. Apa sebabnya?Menurut seorang kawan yang sudah puluhan tahun memberikan pelayanan di berbagai korporasi, hal ini disebabkan selain meningkatnya tuntutan kualitas juga disebabkan training provider kurang jelas memberikan bukti materi-materi yang ditawarkan memenuhi kebutuhan, terukur ROI-nya, dan benar-benar dapat diterapkan. Sejak awal, NLP~Coach Indonesia telah mempertimbangkan hal ini dalam setiap proposal yang diberikan. Namun untuk peserta individual, masih menjadi keprihatinan, maka dalam upaya memberikan hasil terbaik, kami meningkatkan kesadaran terhadap area afeksi (Affective Domain). Tetapi bagaimanapun kami hanya dapat mengusulkan kepada alumni, tidak mengontrolnya. Dalam lingkup suatu organisasi, maka area afeksi adalah area mentoring dan sponsorships.Area afeksi dapat juga dimaknai sebagai tindakan sesudah peserta selesai mengikuti seluruh rangkaian program pelatihan dan menunjukkan kompetensi seperti yang dijelaskan pada area kognisi dan area psikomotorik secara memuaskan.
Area afeksi terdiri dari beberapa tahap yang berlangsung di luar ruang kelas pelatihan yaitu dalam kehidupan sehari-hari. Kembali penulis mengambil contoh pelatihan NLP Practitioner, maka seseorang yang sudah menunjukkan kompetensi kognisi dan psikomotorik diharapkan memiliki kesadaran dan mengenali suatu proses atau pengalaman. Sebagai contoh saja, ketika mendapatkan input inderawi yang merangsang kemarahannya, ia sadar dan tidak reaktif terhadap emosi tersebut, dengan demikian ia menunjukkan komperensi dapat mendengarkan, memerhatikan siatuasi realitas saat itu.
Selain sadar adanya rangsangan yang memicu emosi tertentu, NLP Practitioner tidak mengabaikan begitu saja informasi yang diterimanya melalui representational system (inderawi). Ia mau merespons, menjawab, menjelaskan dan mendiskusikannya.
Ia merasa apa yang dirasakannya penting, teknologi berpikir NLP yang sudah dipelajarinya penting, menunjukkan komitmen kepada yang lain (misalnya orang yang memicu emosinya) sehingga ia berupaya mencari solusi dan menjelaskan emosinya. Ia belajar dari pengalaman yang diyakininya berharga sehingga kompetensinya meningkat dan ia semakin mudah menerapkannya dalam proses-proses selanjutnya.
Mengorganisasi nilai-nilai yang sudah disadarinya dari proses-proses tahap sebelumnya memungkinkannya menggabungkan secara konsisten dan selaras melalui berbagai kegiatan seperti berdiskusi, berdebat, merumuskan, memformulasi dan menyeimbangkan nilai-nilai dalam proses-proses.
NLP Practitioner yang terus mempraktikkan teknologi berpikir selain meningkatkan kompetensinya, juga membentuk kebiasaan perilaku positif. Dari kebiasaan akhirnya menjadi karakter. Contoh-contoh kata kerja karakterisasi adalah merevisi, menginginkan hal-hal positif dan menghindari yang negatif serta mencegah timbulnya pengalaman atau situasi yang tidak diinginkan.

No comments:

Post a Comment