Bagaimana Penyedia Jasa Pelatihan Membantu Dunia Korporasi?



Menginvestasikan uang perusahaan untuk membayar fee trainer luar adalah sebuah tindakan bisnis yang mengandung risiko, karena itu perlu dilakukan analisis yang teliti sebelum bertindak. Selama ini training provider dan juga coaches profesional masih mengandalkan program dan cara kerja yang mereka kuasai saja. Padahal akan lebih baik bila training provider mampu memberikan konsultasi kepada korporasi bagaimana merencanakan  kebutuhan training. Dengan demikian perusahaan akan mendapatkan solusi yang tepat, mengantisipasi disrupsi yang ditimbulkan perubahan yang tidak pasti di dunia bisnis.
Competency Based Training (CBT)  bukan hanya sekedar respons atas terjadinya deviancy antara standar dengan kinerja aktual, melainkan merupakan upaya terencana dan terus-menerus untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran karyawan agar menguasai kompetensi yang berhubungan dengan pekerjaannya. Yang dimaksud dengan kompetensi—seperti sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya: meliputi keterampilan-keterampilan, sikap (nilai-nilai dan sitem keyakinan) yang tercermin melalui perilaku (behavior) ketika melaksanakan proses kerja.

Mengacu kepada penguasaan kapabilitas yang terdiri dari tiga besar kompetensi: Core Competency (kompetensi inti); Cross Function Competency (kompetensi lintas fungsi) dan Technical Competency (kompetensi teknis), maka program pengembangan SDM dapat pula disusun dengan mengacu kepada tiga kelompok kompetensi tersebut.

Banyak perusahaan masih mengabaikan pentingnya peningkatan kompetensi inti atau kurang memberikan perhatian. Hal ini mungkin disebabkan belum adanya kesadaran bahwa, kompetensi ini dapat ditingkatkan, utamanya dengan coaching mentoring dan kepemimpinan inspiratif. Perusahaan—SME utamanya, belum memperhatikan visi yang dibangun dari nilai-nilai pendirinya. Misi perusahaan juga lebih banyak dilaksanakan berdasarkan instruksi-instruksi contingency(kapan dan di mana perlu suatu tugas dikerjakan oleh karyawan). Trial and error menjadi kebiasaan yang terus berlangsung hingga keadaan menjadi sedemikian runyam.

Lain halnya dengan perusahaan-perusahaan besar, karyawan yang baru bergabung segera dikenalkan dengan values (nilai-nilai); mindset (pola pikir); dan budaya organisasi.
Program pelatihan yang paling sesuai adalah yang dilakukan oleh para leader di dalam organisasi dan ditindaklanjuti dengan coaching – mentoring. Hal ini disebabkan kompetensi inti dilatih dengan menggunakan metode orientasi, orienteering(kegiatan di alam terbuka), penyelarasan nilai-nilai pribadi dengan nilai-nilai perusahaan dan pembentukan budaya kerja yang khas pada organisasi perusahaan. Penguasaan kompetensi ini sangat membantu kesuksesan membangun tim dan kekompakan yang selanjutnya akan melancarkan perputaran roda organisasi.

Di sini terbuka kesempatan bagi training providerdan lembaga coaching untuk melatih pemimpin-pemimpin—yang notabene adalah eksekutif atau tim manajemen agar memiliki kompetensi melatih (termasuk keterampilan coaching mentoring) staff dan karyawannya. Coaching GENIUS at Work misalnya disusun untuk memenuhi kebutuhan ini.

Sumber daya manusia juga penting dilatih secara terencana agar menguasai kompetensi lintas batas. Adanya kamus kompetensi tentu saja sangat membantu karena human resource department dapat merekrut karyawan baru yang telah mengusai kompetensi lintas fungsi; misalnya: digital literacy, computer literacy, communication skills dan bekerja sama dalam tim. Beberapa perusahaan mungkin membutuhkan calon talent yang fasih berbahasa asing tertentu.

Dalam prakteknya, pegawai baru yang tersaring memiliki tingkat kompetensi lintas batas bisa saja tidak seluruhnya terbukti benar setelah penempatan. Akar permasalahannya harus teridentifikasi dan tidak buru-buru diberikan pelatihan untuk menutupi competency gap yang muncul. Bilamana terjadi kelalaian atau kurang mantapnya sistem penyaringan calon pegawai, maka area itulah yang perlu diperbaiki. Deviancykompetensi generik seperti ini umumnya terjadi ketika seorang staff dipromosikan menjadi manajer dan sementara ia harus memanajemen tim yang sudah lebih lama bekerja di perusahaan. Manajer baru umumnya tidak menguasai—secara maksimal—cara berkomunikasi dengan generasi yang lebih tua dan “berpengalaman”.  Selain itu adalah kemungkinan karyawan baru “gagal” berselaras dengan budaya perusahaan karena perbedaan signifikan dengan nilai-nilai pribadinya. Berhubung kompetensi lintas fungsi ini menjadi landasan penguasaan kompetensi teknikal, maka sangat penting mendapatkan perhatian manajemen.

Training provider dapat diundang untuk memberikan pelatihan-pelatihan yang utamanya dilaksanakan di ruang kelas. Hal ini membuka kesempatan masuknya ide-ide baru, pola pikir bervariasi, dan inspirasi serta tidak menimbulkan kebosanan pada karyawan yang dilatih. Pelatihan yang dilaksanakan oleh training provider perlu pula ditindaklanjuti dengan program coaching mentoring oleh tim manajemen (atasan langsung atau eksekutif).
Kompetensi teknis merupakan kompetensi yang bisa diamati baik dari pada perilaku ketika sedang perform ataupun hasil output yang tercapai. Aktual di lapangan lalu langsung dibandingkan dengan deskripsi kerja dan prosedur standar operasional (SOP) dan proses-proses kegiatan operasional secara spesifik.

Kompetensi ini terkait langsung dengan fungsi, jabatan dan peran masing-masing dalam suatu organisasi. Metode training yang dapat digunakan di antaranya: seminar dalam ruang kelas untuk menjelaskan landasan teori atau pengetahuan kognisi suatu pekerjaan. On job training: yaitu praktek di lapangan dengan terlebih dahulu diberikan petunjuk dan didampingi hingga yang bersangkutan menguasai langkah-langkahnya. Setelah peserta menguasai langkah-langkah melakukan suatu tugas maka selanjutnya ia dapat diberikan tanggung jawab menangani sebuah projek.

Ada banyak training provider yang mengkhususkan diri memberikan jasa pelatihan di area ini, misalnya mengoperasikan kendaraan berat, menangani kecelakaan di tempat kerja, pemadam kebakaran, operator-operator berbagai mesin. Tak kalah banyaknya kompetensi teknis juga ditemukan pada pekerjaan di belakang meja, contohnya: pembukuan, perpajakan, membuat laporan keuangan, administrasi, pembelian, perekrut pegawai, penjual, back office support dan banyak lagi. Dan tentu saja training provider dapat menawarkan jasa melatih trainer perusahaan agar mereka dapat melatih anggota timnya dengan baik.

Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan kalau program training sebenarnya sudah harus tersusun mendahului beroperasinya sebuah perusahaan. Selambat-lambatnya ketika deskripsi-deskripsi tugas atau pekerjaan dibutuhkan dan pegawai direkrut untuk melakukannya. Competency gap yang terjadi dalam perjalanan tidak akan menimbulkan dampak serius sebab telah diantisipasi dan dapat ditangani dengan baik. Bilamana seorang pegawai keluar entah karena diberhentikan, mengundurkan diri atau rotasi tugas, maka kepala timnya dapat dengan mudah melatih penggantinya, apalagi bila kompetensi lintas fungsi dan kompetensi inti sudah tercapai.

Advanced NLP High Impact

Apa itu Advanced? Advanced adalah berpikir progressif, cutting edge, innovative dan superior.

Menurut Bloom’s Taxonomy; orang menguasai suatu ilmu dimulai dari level yang paling dasar hingga paling top, maka saya telah berusaha belajar NLP dengan mengikuti pelatihan-pelatihan berstandar internasional, guru-guru yang berpengalaman luas dan terus membaca buku-buku serta berdiskusi dengan para master dari berbagai latar-belakang.

Setelah bertahun-tahun mempraktekkan NLP untuk mengatasi berbagai problem dari aspek-aspek kehidupan ini, akhirnya memungkinkan saya meng-advanced-kan NLP dengan menghubung-hubungkan berbahagi ide, misalnya menghubungkan pendekatan komunikasi NLP dengan kegiatan berkomunikasi di tempat kerja, coaching-mentoring, memersuasi pelanggan, mencapai hasil terbaik dari suatu negosiasi, dan mempresentasikan topik apapun secara menarik.

Dalam kegiataan konsultasi dan business coaching saya berkesempatan pula menganalisa perilaku sukses mengelola perusahaan. Saya menyadari bahwa kegiatan utama mengelola bisnis sebenarnya adalah memberdayakan talents, maka dari sanalah—NLP yang sudah di-advanced-kan, saya menciptakan programs pelatihan-pelatihan ini (hanya beberapa contoh dari yang sudah dilaksanakan). 

No comments:

Post a Comment